KONTRIBUSI ATAU CUMA ‘BUSY’?

September 5, 2011 at 10:21 am (ceracau, kisah-kisah)

Oleh : Anthony Dio Martin Managing Director HR Excellency Bisnis Indonesia,

“Doing nothing better than being busy doing nothing.”-Lao Tzu-

Memulai awal 2009 ini, ada suatu kisah yang saya ingin Anda renungkan. Kisah ini bercerita tentang seekor itik yang begitu sibuk berenang di suatu kolam. Dari awal matahari terbit hingga menjelang di ufuk timur, itik itu sibuk sekali berenang di kolam tersebut. Berkeliling dari satu ujung ke ujung yang lainnya. Tidak ada capai-capainya. Betul-betul luar biasa. Hingga menjelang akhir hari tersebut, si itik itu pun memutuskan untuk keluar dari kolam itu dengan ‘keringatan’ sambil berucap, “Wuih…betul-betul capai sekali dan meletihkan”.

Inilah fenomena itik berenang yang ingin saya bicarakan dengan Anda di permulaan tahun baru ini. Saudara serumpun kita dari Malaysia mempunyai istilah ‘gelabah itik’ untuk mendeskripsikan kesibukan seekor itik di kolam. Seperti kisah di atas, kalau Anda perhatikan, itik tersebut nampaknya sibuk kesana-kemari, banyak gerakannya, tetapi pada akhirnya…itik itu tidak bergerak ke mana pun! Nah, kalau hal ini Anda kaitkan dengan kehidupan Anda pada tahun lalu, apakah mirip dengan si itik ini? Begitu banyak kesibukan dan pekerjaan (atau bahkan ada yang pura-pura sibuk) tetapi pada akhirnya hanya sedikit produktivitas atau hasil yang Anda capai. Banyak aktivitasnya tetapi dimana hasilnya, Anda pun tidak bisa menjelaskannya.

Begitulah, dalam momen konseling yang dilakukan terhadap ratusan peserta pelatihan, saya menjumpai orang-orang yang berkeluh-kesah soal kesibukan mereka sampai-sampai tidak punya waktu lagi untuk keluarga. Bahkan, waktu untuk sekadar memanjakan diri dan menikmati hidup pun, rasanya nyaris tidak punya. Mereka datang dari berbagai latar belakang, mulai dari direktur, manajer, supervisor, karyawan biasa, guru, bahkan para pengusaha. Dan kebanyakan mengajukan kasus yang sama, yakni pekerjaan yang menuntut waktu dan tenaga mereka secara berlebih.

The Swimming Duck

Pada akhirnya, mereka tiba dengan wajah yang lesu sembari berujar, “Yah, inilah risiko pekerjaan. Begitu banyak menyita waktu saya, begitu banyak hal yang harus dikerjakan, sehingga tidak ada waktu untuk yang lainnya.” Kalimat yang terdengar sangat akrab, bukan?

Fenomena itik

Kalau Anda banyak sekali berujar soal kekurangan waktu di tahun lalu, cobalah Anda refleksikan, jangan-jangan Anda pun terkena fenomena itik di atas. Itulah yang sering kali saya sampaikan dalam berbagai kesempatan seminar dan training saya, “Ketika Anda begitu ‘busy’ apakah Anda betul-betul berkontribusi?”

Hal yang perlu Anda perhatikan bagi diri Anda dan juga orang-orang yang Anda pimpin adalah kesibukan, tidak selalu setara dengan produktivitas. Artinya, Anda bisa kelihatan sibuk ke sana-ke mari, tergesa-gesa atau bekerja siang dan malam, tetapi tidaklah berarti Anda menghasilkan sesuatu.

Itulah penyakit yang tanpa sadar dialami oleh banyak orang. Saya jadi ingin mengingatkan Anda dengan ucapkan yang pernah disampaikan oleh salah satu guru pemasaran idola saya, Jay Abraham, dalam nasihatnya bagi para pebisnis, “Begitu banyak orang yang mengatakan mereka bangga menghabiskan waktu berhari, berbulan dan bertahun dengan bisnisnya. Tapi yang penting bukanlah seberapa banyak waktu yang Anda habiskan. Tapi, seberapa banyak yang Anda hasilkan ?” Dengan kata lain, percuma kita menghabiskan banyak waktu, kelihatan sibuk, tetapi hasilnya nihil.

Celakanya, sadar ataupun tidak, kita seringkali mengukur kontribusi diri kita dari waktu dan kesibukan kita setiap hari. Jika setiap hari kita lembur dan pulang tengah malam, kebanyakan dari kita akan berpikir inilah cara kita berberkontribusi dan sikap yang patut diteladani.

Saya sendiri pun pernah kenal secara dekat seorang atasan yang senang jika anak buahnya terlihat sangat sibuk. Jika sampai ia melihat bawahannya ada yang nganggur, dia akan langsung memarahi dan menganggapnya tidak memberikan yang terbaik bagi perusahaan.

Padahal, ukuran kontribusi yang sesungguhnya bukanlah berapa banyak waktu dan tenaga yang kita berikan melainkan berapa banyak hasil yang diberikannya! Buat apa kelihatan sibuk, sampai-sampai tidak ada waktu untuk berpikir hal-hal yang strategis dan

menolak menerima tambahan pekerjaan lain dengan alasan kesibukannya, tetapi pada kenyataannya pun tidak banyak yang dihasilkannya.

Namun, itulah fenomena yang juga saya temukan pada banyak karyawan di kantor-kantor belakangan ini. Begitu rajinnya mereka datang pagi-pagi, sibuk di depan komputer, bergerak dengan setumpuk dokumen, bicara di telepon (katanya dengan klien), terkadang sibuk keluar kantor (katanya bertemu klien), tetapi pada akhir hari jika kita tanyakan bagaimana hasil pekerjaannya, jawabannya adalah, “Kerjaannya belum selesai” atau “Targetnya belum tercapai”.

Begitulah, kita sering sekali terjebak untuk menjadi sekadar busy padahal sebenarnya kontribusi kita tidak setimpal dengan waktu dan tenaga yang kita keluarkan. Yang lebih parah, ada beberapa orang yang memang kecanduan dengan kesibukan.

Mereka memperoleh kepuasan psikologis dan merasa berharga jika mereka bisa menyibukkan diri habis-habisan. Akibatnya, keluarga menjadi korban, orang-orang terdekat kita menjadi korban, bahkan tidak jarang kehidupan kita sendiri turut terenggut dan menjadi korban.

Tanpa hasil gemilang

Kalaupun di tempat kerja, orang-orang ini prestasinya biasa-biasa bahkan tergolong rendah. Mereka pun tidak banyak mencetak hasil yang gemilang. Ini sesuatu yang sangat ironis bukan, begitu sibuknya tetapi mengapa tidak ada pencapaiannya?

Baiklah. Sekarang mari kita bicarakan bagaimana caranya Anda betul-betul berkontribusi dan tidak hanya busy? Ada dua hal penting yang perlu menjadi perenungan kita. Goal kita dalam bekerja harus jelas. Bedakan antara aktivitas dengan hasil!

Tujuan kita dalam bekerja bukanlah mencari kesibukan tetapi bagaimana kita menghasilkan. Karena itu, perlu bagi kita untuk memiliki semacam alarm dalam diri kita sendiri, apakah kita menghasilkan sesuatu atau hanya sekedar menyibukkan diri. Ataupun sebaliknya, ketika kita bersibuk ria, apakah setimpal dengan output yang kita peroleh.

Milikilah kepekaan bahwa apa pun yang sedang kita kerjakan membawa kita semakin dekat dengan tujuan kerja ataupun goal kehidupan kita. Pastikan kita sadar, bahwa apa pun yang kita lakukan, termasuk pekerjaan kita di kantor, meskipun pergerakannya lambat, tetap membawa kita semakin dekat dengan tujuan kita. Jika tidak jangan meluangkan waktu terlalu banyak dengan pekerjaan-pekerjaan yang hanya menyita waktu tetapi sia-sia.

Untuk itu, tips kita yang kedua adalah sungguh-sungguh mengenali mana pekerjaan yang produktif, dan mana yang hanya menyibukkan tetapi tidak produktif. Terkadang, di kantor dan di bisnis akan ada banyak aktivitas yang menyibukkan, tetapi sebenarnya tidak produktif, termasuk telepon-telepon, obrolan, kunjungan ataupun rapat-rapat yang ‘wasting time’.

Termasuk juga teknologi sekarang bisa menjadi ‘pencuri waktu’ yang kejam. Kesibukan membalas email, mencari informasi di Internet dan merespons permintaan yang tidak penting, serta berbagai aktivitas popularitas seperti blogging, friendster ataupun chatting, bisa sangat menyita waktu. Beranilah untuk menyortir dan berusahalah tidak tergoda untuk hal-hal yang menyita waktu Anda yang berharga.

Seorang bijak pernah berkata, “Kunci dari fokus adalah eliminasi”. Anda harus berani menyingkirkan hal-hal yang tidak sesuai dengan prioritas Anda. Anda harus berani berkata “tidak” untuk godaan aktivitas yang justru mengganggu produktivitas Anda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: