cobalah untuk Setia

November 15, 2007 at 12:47 pm (ceracau)

suara kumbang siang itu tiba-tiba pecah oleh sebuah teriakan dan makian.
“dasar kau tukang selingkuh, bangsat!” teriak si istri dengan muka memerah mencoba untuk menuduh si suami yang hanya terdiam engan ujung rokok yang tetap membara.
“ngaku kamu! bilang aja kalau udah bosen!!”.
“kalau mau selingkuh, selingkuh. tapi jangan pernah bawa jalang itu ke rumah kita!”. teriaknya dengan nada yang akhirnya merendah dan pada akhirnya disusul pula oleh derai air mata.
“siapa yang selingkuh?coba kau tanyakan sama semua orang, apa pernah suamimu ini berselingkuh?”
“kau memang istri ketigaku, namun aku pun menikahimu setelah kedua istriku meninggal.” kelah si suami.
“ah, kencing kau! sudahlah jujur saja, kau memang tukang selingkuh!”
“aku tak pernak selingkuh! sekali kau mengatakan itu, awas kau!” ancam suami dengan berteriak.
“tukang selingkuh bangsat!!!!” teriak istri seraya menampar suami.
Kembali sebuah tanparan balasan mendarat di pipi istri dan diikuti langkah suami keluar rumah.
“minggat kau!!jangan pernah kembali.” bentak istri ke punggung suami.
Isak tangis kembali membahana di ruangan dan suasana menjadi suram, gelap dan tidak menyenangkan.
Sementara si anak hanya terdiam di ujung kamar, berpura-pura tidur, dan menangis karena ibu-bapaknya kelahi.

***
Namanya Setia, tanpa nama belakang tanpa nama depan, cuma Setia. Umurnya tujuh tahun dengan tubuh mungil dan wajah yang tidak begitu cantik. Setia adalah tipe anak yang periang dan ramai jika berkawan, namun begitu di rumah dia menjadi pendiam dan hanya mengucapkan kata seperlunya. Tidak pernah dia mengobrol bersama ibu-bapaknya. Bukan, bukan karena penyiksaan anak kecil yang banyak terjadi di Indonesia sekarang ini. Ibunya bahkan sering kali bertanya sepulang sekolah apa saja kejadian di sekolah, Setia hanya menjawab dengan sopan “ga ada apa-apa ko”. Lalu biasanya dia akan segera masuk kamar dan mulai mengerjakan segala PR nya dan baru keluar kamar nanti ketika acara TV mulai menayangkan acara kartun kesukaannya. Setelah makan malam dia akan kembali ke kamar, dan beberapa saat kemudian dia tertidur. Itulah rutinitas Setia setiap harinya.

Setia begitu sayang dengan neneknya yang juga tinggal di sekitar rumahnya. Ketika ibu-bapaknya pergi dan dia tidak diajak, maka dia akan dengan gembira tinggal di rumah nenenya. Entah mengapa Setia suka tinggal di rumah neneknya, neneknya bukanlah tipe nenek yang begitu mencintai cucunya layaknya dongeng-dongeng. Neneknya tinggal sendiri di rumah yang kecil dan ketika Setia berkunjung ke rumah neneknya, maka neneknya seperti tak mengacuhkannya. Tapi setia selalu dengan gembira dan bersemangat untuk tinggal disitu, bahkan suatu waktu Setia pernah berujar ingin tinggal selamanya di rumah neneknya. Namun ketika ditanya mengapa dia berkeinginan begitu, seperti biasa, di hanya menjawab “ah, enggak kok ”bu, nggak jadi kok”.
(oktober, 25, 2007) and to be continued

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: