Ku menjawab dalam angan

October 4, 2007 at 11:51 am (kisah-kisah)

Emang lo udah gak sayang lagi ama gue?”, tanyanya dengan nada bergurau dan senyum manis di bibirnya.

 

***

Aku mulai menarik kembali semua potongan-potongan kisah yang telah lama berlalu, kembali ke 1,576,800 menit yang lalu.
Kembali ke awal pertemuanku dengannya, menelusuri dan mengumpulkan keping-keping kisah itu yang aku letakkan dalam satu tas yang sangat besar. Aku tidak mau melewatkan satu keping pun, karena saat ini hanya kepingan itu yang dapat membantu menyelamatkan hidupku.

Sang Waktu hanya memberi sedikit detik untuk mengumpulkan ribuan bahkan mungkin jutaan keping-keping penyelamat hidupku. Pada milidetik terakhir yang diberikannya padaku, aku berhasli mengumpulkan kesemuanya tanpa terlewat satu pun.

Aku mulai menyusun keping demi keping kisah itu dan dengan seksama aku memperhatikan dengan baik setiap keping yang kudapat, aku mencoba membawa kemabli semua memoir yang ada. Sedetik kemudian jutaan keping itu telah menjadi sebuah lukisan utuh tentang kisahku, namun aku belum menemukan apa yang kucari, aku kembali meneliti setiap keping dan membawa kembali ingatanku ke setiap kisah-kisah itu. Sedetik kemudian aku telah sampai pada kepingan terkahir, namun aku juga belum menemukan jawaban dari pertanyaannya.

Aku panik dan berusaha berpikir keras, entah apa yang harus aku katakan, aku harus mengatakan sesuatu, aku tak boleh membuatnya menunggu. Itu tidak baik.

Aku berkeputusan.

***

“Baiklah,”, kataku tegas. “pertanyaanmu begitu susah untuk aku jawab, namun aku akan jujur padamu.”
“Keangkuhanku dan keegoisanku sebagai seorang Adam mengatakan aku tiada menyayangimu lagi, karena kau bukan lagi milikku, kau telah dengannya dan menurut ceriteramu sendiri, kau bahagia karenanya.” Aku menatap jauh ke dalam matanya menunjukkan keseriusanku akan kata-kataku.
“Namun, dalam keterpurukanku sebagai seorang Adam, aku akan tetap menyayangimu dan akan selalu menyayangimu, lalu, kini dan esok.” jawabku tanpa berani menatap matanya lagi.
Aku lega telah megatakan isi hatiku, biarlah apa pikirannya aku tak peduli, mau dia mencaciku, mau dia menamparku, tiada akan tersakiti aku, karena aku telah melepaskan sakit yang luar biasa hebat yang selama ini membelengguku.

Sekarang aku bebas.

***

Aku hanya diam terpaku menatap matanya tanpa mampu mengeluarkan sepatah katapun.

kok, lo diem aja sih? Cieeehh… masih sayang ama gue nih? hahahaha..”, tanyanya kembali dengan tertawa dan bercanda.
“Enak aja lo!”, jawabku sambil melengos, mencoba melupakan apa yang telah terjadi di alam pikirku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: