PROLOG

September 27, 2007 at 10:55 am (kisah-kisah)

Alkemis itu mengambil buku yang dibawa seseorang dalam karavan. membuka-buka halamannya, dia menemukan sebuah kisah tentang Narcissus.

Alkemis itu sudah tahu legenda Narcissus, seorang muda yang setiap hari berlutut di dekat sebuah danau untuk mengagumi keindahannya sendiri. Ia begitu terpesona oleh dirinya hingga, suatu pagi, ia jatuh ke dalam danau dan tenggelam. Di titik tempat dia jatuhnya itu, tumbuh sekuntum bunga, yang dinamakan narcissus.

Tapi bukan dengan itu pengarang mengakhiri ceritanya.

Dia menyatakan bahwa Narcissus mati, dewi-dewi hutan muncul dan mendapati danau tadi, yang semula air segar, telah berubah menjadi danau air mata yang asin.

“Mengapa enkau menangis?” tanya dewi-dewi itu.
“Aku menangisi Narcissus,” jawab danau.
“Oh, tak heranlah jika kau menangisi Narcissus,” kata mereka, “sebab walau kami selalu mencari dia di hutan, hanya kau saja yang dapat mengagumi keindahannya
dari dekat.”
“Tapi…. indahkah Narcissus?” tanya danau.
“Siapa yang lebih mengetahuinya daripada engkau?” dewi-dewi bertanya heran. “Di dekatmulah ia tiap hari berlutut mengagumi dirinya!”

Danau terdiam beberapa saat. Akhirnya, ia berkata:
“Aku menangisi Narcissus, tapi tak pernah kuperhatikan bahwa Narcissus itu indah. Aku menangis karena, setiap ia berlutut di dekat tepianku, aku bisa melihat, di
kedalaman matanya, pantulan keindahanku sendiri.”
“Kisah yang sungguh memikat,” pikir sang alkemis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: