Tisu, Cinta dan Harapan….
Hari yang sama dan kebosanan yang sama selalu terulang minggu-minggu ini, terutama hari Minggu ini yang sangat membosankan!!!Bangun pagi, segelas kopi, secerca bandwith hanya untuk melihat apa kabar bumi pagi ini…
Setelah dua minggu gw absen ngajar akhirnya gw memutuskan untuk ngajar hari ini, kebosanan yang sangat luar biasa terulang lagi. Pulang ngajar, busway yang sama dan angkot 19 yang sama,…njing!!
Tapi tunggu dulu, buat apa kalo hari ini sama kaya yang laen dan gw posting disini?it must be sumthin’ new today..yup you’re right!!
The same busway, the same angkot 19, but a different girl next to me, yiihhaaa!!! -iya gw tw gw over excited, lo musti denger ceritanya!-
Jadi ya, waktu gw naek angkot, setelah seprempat perjalanan ke Depok, tiba2 ada gadis manis (sumpah, dia manis, dia putih, chubby, agak tinggi, padat dan berisi, pokoknya she’s 10 out of 10!!) berhentiin angkot gw, eh sori, angkot abangnya yang gw tumpangin, dan dia duduk di samping pintu..kesian sih, cuma gw ga bisa pindah gara-gara tuh angkot penuh mampus, jadi gw cuma bisa diem dan merhatiin cewek itu kedinginan, oia dia pake T-Shirt pink, cardigan dan skinny, simple, ga neko-neko, excellente! dan kayanya itu cewek pilek deh, habis dari tadi kedengeran suara “SRRUUTTT!!!” -suara inhale plus ada sedikit mucus(baca:lendir .red) ikut ketarik ke rongga hidung…(yuucck!!tapi ga pa pa, karena dia manis, dia berhak mau ngapain aja!)-
Beberapa menit kemudian angkot berhenti dan orang-orang pada turun, dan dia berpindah ke samping gw!! yes!! *suara hati* di samping gw dia cuma duduk dan menggosok-gosokkan tangannya, karena udara dingin yang makin mencekam, dan tentunya dengan suara “SRRUUTTT!!!” itu. Lalu gw berpikiran untuk kenalan ama itu cewek, karena keliatannya dia nyaman ama gw, sumpah gw ga bohong, gw tau apakah seseorang nyaman disamping gw atau gak, jadi gw berpikir bagaimana gw bisa kenalan dengan gadis manis ini. Lalu teringatlah gw tentang alkisah tisu yang dapat menaklukkan seorang gadis, jadi gw merogoh tas gw dan mengobrak-abrik isi tas gw berusaha mencari sebungkus tisu. Taddaaa!!found it!lalu gw ambil dan,
“Tisu?kayanya lo pilek deh.”
“Eh, iya nih,” dan si gadis mengambil sehelai tisu gw *umpan pertama berhasil*
“Dingin banget, mana abang-abangnya jalannya kenceng banget lagi!”
*dalam hati gw* “anjing!! iya nih abang-abang, pelan dikit ‘napa? kan jarang-jarang gw ketemu cewek semanis ini di kehampaan hidup gw???!!”
“Ya lo tau lah 19 kan emang terkenal metal?”
“Hehehe…eh iya, makasih tisunya.”
“Oh iya sama-sama” –hening sejenak– “Lo turun mana?”
“Kober, lo?”
“Wah sama dong?” *sama dari Hong Kong? kos-an gw di Pocin nyet..* “Kober mananya?”
“Oh, gw gak ngekos di kobernya, gw cuma mau ke warnet doang, gw kos di Barel”
*dalam hati* “Anjing!!”
“Oh gitu, anak UI toh?”
“iya”
“Ambil apa?”
“Mene”
“Angkatan?”
“2005″
“Wah kenal ama Dafina dong?”
“Kenal, ko lo kenal dia?”
“iya dulu gw pernah kerja bareng”
“oh gitu toh..” “Kerja apaan?
“ya ada deh, bimbel gitu”
“oohh..” “emang lo ambil apa?”
“Gw, kom, 2004″
“Bentar lagi lulus dong?”
“Insyaallah” *sambil tersenyum a la Aa Gym*
“gw doain deh biar cepet lulus, hehehehehehe….”
“Aminnnn….hehehehe”
“abis lulus langsung kuliah lagi ato kerja?”
“kerja dulu kayanya, naru nerusin, habis percuma juga, kalo gw pikirin, punya titel S2 tapi gak ada pengalamn kerja juga siapa yang mau make?”
“iya juga sih, emang rencana mau kerja dimana lo?”
“kalo target sih Nestle ama Unilever, tapi tauk deh ketrima pa enggak, habis sekarang lagi konrak ama Telkomsel setahun plus ngajar plus skripsi. Takut hak lulus-lulus gw!”
“Wiiih orang sibuk dong lo?” *tersenyum dia nya padaku, manis..manis..manis…*
“Ah enggak kali, cari pengalaman doang”
“di Telkomsel kontrak apaan?emang dia sistem kerjanya kontrak ya?”
“oh enggak, gw researcher, communication research, jadi gw kaya outsource gitu deh, jadi ya kontrak…” “Eh di FE kan mau ada MIST tuh?lo gak ikutan?”
“enggak, lagi males aja”
“lho ko males?”
“enggak, lagi pengen konsen ke kuliah aja..”
“oh gitu….” hening sejenak, “bentar lagi Kober tuh, turun kan lo?
“Iya, kober kiri bang ya?emang lo gak turun?”
“ya turun lah..masa mau ikut abangnya pulang ke rumah?aneh lo.”
Lalu dia turun, gw turun dan abangnya turun *serius, abangnya turun!!tapi cuma ngecek ban doang terus naik lagi*
“Jadi ke warnet?”
“jadi lah”
“warnet mana?”
“tauk nih, cari aja yang kosong..”
“oiya, gw Didin.” sembari mengulurkan tangan
“Eh iya, sorry, gw Chika”
“Eh, gw baru inget, beberapa hari ini gw akan sering main ke FE lho, ada kerjaan ama temen gw. Mungkin kita akan sering ketemu.”
“Serius lo?pas banget momennya?hehehehehe….emang lo biasa ketemu dimana ama temen lo?Dafina?”
“Bukan, emang temen gw Dafina doang?biasa sih ketemu dulu di makara, baru paling ke kafe”
“Bisa sering ketemu dong kita?hahahahahaha!!”
“insyaallah, amin, hehehehe”
dan gw berpikiran untuk minta no HP dia, cuma, cih!, trik murahan, ntar aja kalo udah dua-tiga kali ketemu baru minta no HP, biar gak kliatan napsu..
“Ya uda deh gw ke warnet dulu ya?lo langsung cabut?”
“iya nih, capek, pengen mandi, tidur…”
“Ya udah, duluan ya..”
“Ok-ok..”
setelah beberapa langkah,
“eh Chik’!!” gw sedikit berteriak manggil dia
“ha?”
“Nih tissu, di dalem warnet pasti lebih dingin.”
“ee, thanks ya?
“sama-sama”
Gw berpaling…dia berpaling, kami berpisah dan besok gw pasti ketemu dia lagi di FE…Chika, manajemen, 2005, gak bakal susah nyari ni cewek…
-Flash Back-
… jadi gw merogoh tas gw dan mengobrak-abrik isi tas gw berusaha mencari sebungkus tisu, mencari *kayanya tadi gw bawa*, mencari dan,
“kober kiri bang”
dia turun dengan kedinginan, bayar angkot, angkot jalan dengan kenceng dan gw cuma melongo, setelah menyadari bahwa sebenernya gw ga bawa tisu!!AAARRRGGGHHH!!!!!!!!!!!Anjing!!!!@#$%^&*()!!!!!
PM(Pesan Moral):
Selalu sedia tisu, it’s a must!apa lagi kalo lo jomblo!
Ku menjawab dalam angan
“Emang lo udah gak sayang lagi ama gue?”, tanyanya dengan nada bergurau dan senyum manis di bibirnya.
***
Aku mulai menarik kembali semua potongan-potongan kisah yang telah lama berlalu, kembali ke 1,576,800 menit yang lalu.
Kembali ke awal pertemuanku dengannya, menelusuri dan mengumpulkan keping-keping kisah itu yang aku letakkan dalam satu tas yang sangat besar. Aku tidak mau melewatkan satu keping pun, karena saat ini hanya kepingan itu yang dapat membantu menyelamatkan hidupku.
Sang Waktu hanya memberi sedikit detik untuk mengumpulkan ribuan bahkan mungkin jutaan keping-keping penyelamat hidupku. Pada milidetik terakhir yang diberikannya padaku, aku berhasli mengumpulkan kesemuanya tanpa terlewat satu pun.
Aku mulai menyusun keping demi keping kisah itu dan dengan seksama aku memperhatikan dengan baik setiap keping yang kudapat, aku mencoba membawa kemabli semua memoir yang ada. Sedetik kemudian jutaan keping itu telah menjadi sebuah lukisan utuh tentang kisahku, namun aku belum menemukan apa yang kucari, aku kembali meneliti setiap keping dan membawa kembali ingatanku ke setiap kisah-kisah itu. Sedetik kemudian aku telah sampai pada kepingan terkahir, namun aku juga belum menemukan jawaban dari pertanyaannya.
Aku panik dan berusaha berpikir keras, entah apa yang harus aku katakan, aku harus mengatakan sesuatu, aku tak boleh membuatnya menunggu. Itu tidak baik.
Aku berkeputusan.
***
“Baiklah,”, kataku tegas. “pertanyaanmu begitu susah untuk aku jawab, namun aku akan jujur padamu.”
“Keangkuhanku dan keegoisanku sebagai seorang Adam mengatakan aku tiada menyayangimu lagi, karena kau bukan lagi milikku, kau telah dengannya dan menurut ceriteramu sendiri, kau bahagia karenanya.” Aku menatap jauh ke dalam matanya menunjukkan keseriusanku akan kata-kataku.
“Namun, dalam keterpurukanku sebagai seorang Adam, aku akan tetap menyayangimu dan akan selalu menyayangimu, lalu, kini dan esok.” jawabku tanpa berani menatap matanya lagi.
Aku lega telah megatakan isi hatiku, biarlah apa pikirannya aku tak peduli, mau dia mencaciku, mau dia menamparku, tiada akan tersakiti aku, karena aku telah melepaskan sakit yang luar biasa hebat yang selama ini membelengguku.
Sekarang aku bebas.
***
Aku hanya diam terpaku menatap matanya tanpa mampu mengeluarkan sepatah katapun.
“kok, lo diem aja sih? Cieeehh… masih sayang ama gue nih? hahahaha..”, tanyanya kembali dengan tertawa dan bercanda.
“Enak aja lo!”, jawabku sambil melengos, mencoba melupakan apa yang telah terjadi di alam pikirku.
sepotong kisah untuk dia
…Akhirnya, Maria kawin juga. Ia memilih Cok sebagai suaminya
setelah dua tahun berkenalan. Beberapa hari menjelang pernikahannya,
Maria berkata padaku dalam wajahnya yang bahagia.
”Tahu kau? Ketika kita mula berkenalan dulu, kau dan Cok aku
masukkan dalam daftar nominasi calon suamiku. Tapi kau tersisih,
karena Cok lebih mampu memerintahku. Kau ingat waktu kita mau
rapat dulu. Ruang rapat begitu kotornya. Cok memberi aku sapu
dan menyuruhku menyapu. Ingat? Itulah, maka aku memilih Cok,”
Lalu aku goda dia dengan mengatakan, ”Tak kuduga seorang
gadis emansipatif, masih memerlukan laki-Iaki yang mampu memerintah
dia.”
Sekali lagi aku mendapat lemparan bantal kursi.
(cuplikan dari “Maria”, Navis, AA, Antologi Lengkap Cerpen AA Navis, Kompas, Jakarta, 2005.)
Si Empunya Cinta
Aku telah berjumpa dengannya, si empunya cinta dan hasrat, dia cantik, tiada kepalang pula cantiknya. Entah bagaimana caranya aku dapat berjumpa dengannya, entah di mimpi, khayalan atau bahkan sekedar lamunan.
Namun saat itu begitu nyata dan begitu indah. Jika kitab-kitab menceritakan perihal surga yang tiada berwujud indahnya, aku telah melihat surgaku, si empunya cinta dan hasrat.
Dia bukan seperti perempuan pada umumnya yang diceritakan dongeng-dongeng, pendiam, wanita (wani di tata), dan yang sangat penurut.
Dia laksana danau yang begitu jernih, dan tenang, namun apa kata pepatah, air tenang menghanyutkan, jangan sekali-kali kau masukkan badanmu ke danau itu, niscaya tenggelamlah kau akan pesonanya.
Dia mungkin sosok Kartini bagi jaman yang sudah makin edan seperti sekarang. Kuat, independen, namun keluarga-lah yang menjadi prioritas utamanya, yah, setidaknya itulah yang aku ketahui ketika aku berbincang dengannya di saat yang bahkan aku tidak yakin apakah itu mimpi, khayalan, atau bahkan sekadar lamunan semata.
Aku tak kuasa menahan pesonanya yang begitu kuat, hanyut aku bersamanya. Mungkin inilah saat kehancuran para lelaki. Tak lekang kaum Adam termakan harta, kekuasaan, minuman, namun hancurlah dia ketika perempuan datang dan mengambil hatinya.
Telah cukup lama aku mengenalnya, banyak yang telah kami lewati bersama, walaupun kata sahabat-sahabatku itu semua maya, mereka bilang aku gila, mereka juga bilang aku mimpi, semuanya maya, tak nyata. Namun aku tidak peduli, apakah salah jika aku menikmati sesuatu yang maya?apakah dosa jika aku beronani pikiran?apalah arti dosaku dibanding mereka, pengguna narkoba, yang juga penikmat kenikmatan maya?.
Cukup lama aku mengenalnya bukan berarti aku dapat memilikinya, dan aku sangat ingin memilikinya, namun apakah mungkin aku yang manusia nyata mampu memiliki sebuah sosok imajiner, aku tidak suka menggunakan istilah ini namun teman-temanku mengatakan demikian, maka ikutlah aku dengan mereka. Jika aku tetap ingin memilikinya maka tentunya dunia dan pikiran rasional orang-orang diluar sana, akan memakiku dan menghukumku karena telah melawan hukum-hukum ilmu pengetahuan yang sengaja mereka buat demi kepentingan-kepentingan tertentu.
Tidak rasional, tidak empiris, tidak apa lah namanya itu. Jika aku tetap memperjuangkannya, maka aku menjadi kaum pemberontak, karena di negeriku, kaum minoritas, seperti aku ini, bisa dengan mudah dituduh menjadi kaum pemberontak jika melanggar, atau bahkan sekedar mempertanyakan pakem yang telah ada.
Pikiran di kepalaku selalu berkecamuk antara ingin memilikinya dan ketakutan akan konsekuensi jika aku bersikeras memperjuangkannya menjadi milikku. Lagipula aku jika tidak pernah tahu apakah dia juga berkenan menjadi milikku.
Mungkin aku seorang pengecut karena tidak memperjuangkannya, namun aku melakukan ini bukan karena keinginanku namun aku tidak mempunyai kekuatan untuk melawan kekuasaan di luarku. Apa kata dunia jika aku memilikinya?seorang manusia, lelaki, nyata, menikahi sebuah sosok perempuan, cantik, indah, hampir sempurna, tidak nyata. Apa kata surat kabar?apa kata berita-berita di TV?apa kata infotainment ?
Bisa dibilang gila aku, sinting, musyrik, karena menurut beberapa orang, dia tidak nyata maka dia adalah sejenis jin, aneh memang pikiran orang jaman sekarang, edan!.
Untuk apa orang tuaku menyekolahkanku jauh-jauh, tak sedikit pula ragat yang mereka keluarkan demiku, jika aku hanya berakhir dicap sebagi orang gila oleh orang-orang disekitarku?.
Andaikan aku memang orang gila, akan aku kejar dia dan aku dapatkan cintanya. Biarlah kata orang aku gila, karena toh aku memang gila, tak perlu aku hidup dengan mengikuti pakem-pakem gila yang ada.
Saat ini dia ada di sampingku dan membaca tulisan ini, dia hanya tersenyum simpul membaca tulisanku. Mungkin berpikiran sama denganku atau mungkin dia menganggapku gila.
PROLOG
Alkemis itu mengambil buku yang dibawa seseorang dalam karavan. membuka-buka halamannya, dia menemukan sebuah kisah tentang Narcissus.
Alkemis itu sudah tahu legenda Narcissus, seorang muda yang setiap hari berlutut di dekat sebuah danau untuk mengagumi keindahannya sendiri. Ia begitu terpesona oleh dirinya hingga, suatu pagi, ia jatuh ke dalam danau dan tenggelam. Di titik tempat dia jatuhnya itu, tumbuh sekuntum bunga, yang dinamakan narcissus.
Tapi bukan dengan itu pengarang mengakhiri ceritanya.
Dia menyatakan bahwa Narcissus mati, dewi-dewi hutan muncul dan mendapati danau tadi, yang semula air segar, telah berubah menjadi danau air mata yang asin.
“Mengapa enkau menangis?” tanya dewi-dewi itu.
“Aku menangisi Narcissus,” jawab danau.
“Oh, tak heranlah jika kau menangisi Narcissus,” kata mereka, “sebab walau kami selalu mencari dia di hutan, hanya kau saja yang dapat mengagumi keindahannya
dari dekat.”
“Tapi…. indahkah Narcissus?” tanya danau.
“Siapa yang lebih mengetahuinya daripada engkau?” dewi-dewi bertanya heran. “Di dekatmulah ia tiap hari berlutut mengagumi dirinya!”
Danau terdiam beberapa saat. Akhirnya, ia berkata:
“Aku menangisi Narcissus, tapi tak pernah kuperhatikan bahwa Narcissus itu indah. Aku menangis karena, setiap ia berlutut di dekat tepianku, aku bisa melihat, di
kedalaman matanya, pantulan keindahanku sendiri.”
“Kisah yang sungguh memikat,” pikir sang alkemis.
bapak, anak, babi, Tuhan
bapak itu setengah baya, jual poster buat anak-anak, harganya seribu lima ratus perak.
bapak itu hitam, bajunya lusuh, bolong-bolong bahkan.
bapak itu jalan di kereta sambil jual poster.
anak itu 5-6 tahun-an, bajunya kucel gambar Spongebob Squarepants.
anak itu, bawa tas kecil isi receh.
anak itu minta-minta di kereta.
orang-orang itu bercanda seenakperutnya di kereta.
orang-orang itu kaya babi, yang cuma peduli perutnya.
orang-orang itu makan, meludah, sendawa kaya babi di kandangnya.
bapak itu jalan menelusuri kereta.
bapak itu lihat anak kecil minta-minta
bapak itu berhenti, ambil duit, seribu.
bapak itu kasih duit ke anak kecil.
anak kecil itu diam, lihat bapak itu.
anak kecil itu ngga nyangka bakal dikasih bapak itu.
anak kecil itu bilang “terima kasih”.
anak kecil itu ngeloyor pergi.
orang-orang tetap kaya babi
Tuhan punya mata.
Tuhan lihat bapak itu.
Tuhan sayang bapak itu.
Tuhan beri rejeki bapak itu.
orang demi orang di kereta itu tiba-tiba beli poster bapak itu.
orang demi orang dan semakin banyak orang beli poster bapak itu.
bapak itu kewalahan.
bapak itu sumringah banyak yang beli.
bapak itu bingung kenapa tiba-tiba banyak yang beli, biasanya hanya 3orang/gerbong, mentok.
Tuhan punya mata.
Tuhan lihat bapak itu.
Tuhan sayang bapak itu.
Tuhan beri rejeki bapak itu.
(berdasarkan kisah nyata)