Di ujung ruangan itu
Dia teronggok lemas, lunglai di ujung ruangan itu. Termenung dan bergiliran orang-orang datang memakainya. Kenapa dia selalu ada di ujung ruangan?kenapa tidak ada yang peduli akan keberadaan dia?
Dia juga punya perasaan. Menurutmu menyenangkan, ketika setiap oran –dengan dengan berbagi macam bau,bentuk,suara dan suasana hati yang berbeda-beda– datang dan menggunakanmu begitu saja?tanpa ada ba-bi-bu tanpa permisi dan tanpa perasaan?menurutmu menyenangkan?kenapa kau tidak bertukar tempat dengannya saja?
Aku tidak mau melihatnya bersedih, aku bersedih melihatnya tidak mau melayani cecunguk-cecunguk itu!!Paksaan!Sepihak!Apapu namanya yang pasti semua ini tidak sesuai hati nurani dan keinginannya!
Namun sekali lagi aku juga tidak bisa berbuat apa-apa, aku hanya bisa memandangnya dan dengan terpaksa –sangat terpaksa– aku harus ikut menggunakannya. Aku menolak, aku menjerit, tapi aku terpaksa, sama dengannya. Terpaksa. Sekali lagi sangat terpaksa kawan!
Aku ingin menemaninya, duduk di ujung ruangan itu, hanya berdua, sepi tanpa suara, hanya dia dan aku. Tapi apa daya?aku tak kan bisa. Apa kata dunia jika aku menemaninya?bisa dibilang gila aku!!Mereka akan bialng seenaknya saja aku tolol, gila, bego, goblok. Tapi apa yang mereka tahu?Dia juga butuh teman, dia butuh kawan, dia butuh SAHABAT!Siapa yang mau?ada yang mau menemaninya?tidak!hanya aku!tapi sekali lagi kau bilang aku tolol?kau tidak berperasaan!!Babi kau!
Aku harus berhenti menulis ini, aku harus kembali ke rutinitasku, kembali melihatnya bersedih, dengan sedu tangisnya melayani puluhan manusia-manusia laknat itu, termasuk aku.
mety said,
December 19, 2008 at 4:00 pm
jangan kumat deh yang…
Didin Dimas said,
December 20, 2008 at 9:15 am
kamu tahu ga subjeknya apa?