sepotong kisah untuk dia

October 3, 2007 at 11:42 am (kisah-kisah)

…Akhirnya, Maria kawin juga. Ia memilih Cok sebagai suaminya
setelah dua tahun berkenalan. Beberapa hari menjelang pernikahannya,
Maria berkata padaku dalam wajahnya yang bahagia.
”Tahu kau? Ketika kita mula berkenalan dulu, kau dan Cok aku
masukkan dalam daftar nominasi calon suamiku. Tapi kau tersisih,
karena Cok lebih mampu memerintahku. Kau ingat waktu kita mau
rapat dulu. Ruang rapat begitu kotornya. Cok memberi aku sapu
dan menyuruhku menyapu. Ingat? Itulah, maka aku memilih Cok,”

Lalu aku goda dia dengan mengatakan, ”Tak kuduga seorang
gadis emansipatif, masih memerlukan laki-Iaki yang mampu memerintah
dia.”

Sekali lagi aku mendapat lemparan bantal kursi.

(cuplikan dari “Maria”, Navis, AA, Antologi Lengkap Cerpen AA Navis, Kompas, Jakarta, 2005.)

Post a Comment