Anjrit!!!!!
Anj***g!!! gw keilangan Chia gw untuk ketigakalinya…gila gw ga bakat banget ya punya hewan piaraan??
huhuhuhuhuhuhuhuhuhuhuhu….
Apa yang salah denganku Tuhan?
Apa??
Huhuhuhuhuhuhuhuhuhuhuhu…..
berita terbaru dari ruang sidang S1 Komunikasi FISIP UI
Di tengah hawa yang panas di tengah Depok, Jawa Barat, dan saat suasana hati yang begitu gundah gulana.
Di tengah es teh yang begitu menggiurkan dan dahaga puasa yang begitu menyiksa.
Di tengah Dia, dia, dan -nya.
Hadir sebuah berita yang sangat menggembirakan, Outline gw udah DITERIMA!!!hahahahaha…
Akhirnya, seesai sudah tahap pertama siksaan gw…
Hanya menunggu kabar Nika, Dimas dan Swasti untuk menjemput siksa semester, minggu depan.
Selamat datang kawan…
Ku menjawab dalam angan
“Emang lo udah gak sayang lagi ama gue?”, tanyanya dengan nada bergurau dan senyum manis di bibirnya.
***
Aku mulai menarik kembali semua potongan-potongan kisah yang telah lama berlalu, kembali ke 1,576,800 menit yang lalu.
Kembali ke awal pertemuanku dengannya, menelusuri dan mengumpulkan keping-keping kisah itu yang aku letakkan dalam satu tas yang sangat besar. Aku tidak mau melewatkan satu keping pun, karena saat ini hanya kepingan itu yang dapat membantu menyelamatkan hidupku.
Sang Waktu hanya memberi sedikit detik untuk mengumpulkan ribuan bahkan mungkin jutaan keping-keping penyelamat hidupku. Pada milidetik terakhir yang diberikannya padaku, aku berhasli mengumpulkan kesemuanya tanpa terlewat satu pun.
Aku mulai menyusun keping demi keping kisah itu dan dengan seksama aku memperhatikan dengan baik setiap keping yang kudapat, aku mencoba membawa kemabli semua memoir yang ada. Sedetik kemudian jutaan keping itu telah menjadi sebuah lukisan utuh tentang kisahku, namun aku belum menemukan apa yang kucari, aku kembali meneliti setiap keping dan membawa kembali ingatanku ke setiap kisah-kisah itu. Sedetik kemudian aku telah sampai pada kepingan terkahir, namun aku juga belum menemukan jawaban dari pertanyaannya.
Aku panik dan berusaha berpikir keras, entah apa yang harus aku katakan, aku harus mengatakan sesuatu, aku tak boleh membuatnya menunggu. Itu tidak baik.
Aku berkeputusan.
***
“Baiklah,”, kataku tegas. “pertanyaanmu begitu susah untuk aku jawab, namun aku akan jujur padamu.”
“Keangkuhanku dan keegoisanku sebagai seorang Adam mengatakan aku tiada menyayangimu lagi, karena kau bukan lagi milikku, kau telah dengannya dan menurut ceriteramu sendiri, kau bahagia karenanya.” Aku menatap jauh ke dalam matanya menunjukkan keseriusanku akan kata-kataku.
“Namun, dalam keterpurukanku sebagai seorang Adam, aku akan tetap menyayangimu dan akan selalu menyayangimu, lalu, kini dan esok.” jawabku tanpa berani menatap matanya lagi.
Aku lega telah megatakan isi hatiku, biarlah apa pikirannya aku tak peduli, mau dia mencaciku, mau dia menamparku, tiada akan tersakiti aku, karena aku telah melepaskan sakit yang luar biasa hebat yang selama ini membelengguku.
Sekarang aku bebas.
***
Aku hanya diam terpaku menatap matanya tanpa mampu mengeluarkan sepatah katapun.
“kok, lo diem aja sih? Cieeehh… masih sayang ama gue nih? hahahaha..”, tanyanya kembali dengan tertawa dan bercanda.
“Enak aja lo!”, jawabku sambil melengos, mencoba melupakan apa yang telah terjadi di alam pikirku.
sepotong kisah untuk dia
…Akhirnya, Maria kawin juga. Ia memilih Cok sebagai suaminya
setelah dua tahun berkenalan. Beberapa hari menjelang pernikahannya,
Maria berkata padaku dalam wajahnya yang bahagia.
”Tahu kau? Ketika kita mula berkenalan dulu, kau dan Cok aku
masukkan dalam daftar nominasi calon suamiku. Tapi kau tersisih,
karena Cok lebih mampu memerintahku. Kau ingat waktu kita mau
rapat dulu. Ruang rapat begitu kotornya. Cok memberi aku sapu
dan menyuruhku menyapu. Ingat? Itulah, maka aku memilih Cok,”
Lalu aku goda dia dengan mengatakan, ”Tak kuduga seorang
gadis emansipatif, masih memerlukan laki-Iaki yang mampu memerintah
dia.”
Sekali lagi aku mendapat lemparan bantal kursi.
(cuplikan dari “Maria”, Navis, AA, Antologi Lengkap Cerpen AA Navis, Kompas, Jakarta, 2005.)
2.40 PM
Di tengah-tengah puasa ini, begitu banyak yang mengganggu pikiranku…
Ah, entahlah… biarkan Tuhan yang tahu, biarkan Dia yang mengisi setiap relung kekosongan hatiku..
hahaha..taik lah… lagi religius gw..
sholat dulu ah……dari pada gw sesat…hehehehehe….
apakah anggur dan miras haram?
“Bukankah di sini anggur diharamkan?” tanya si
bocah.
“yang buruk bukanlah sesuatu yang masuk kc dalam
mulut manusia,” kata sang alkemis. “yang buruk adalah
yang keluar dari mulut mereka.”