4 Yoga Untuk Mengecilkan Perut

January 8, 2012 at 9:34 am (ceracau)

Aloha,

buat kalian yang sering main ke makanminumairjeruk.wordpress.com dan menemukan fakta bahwa gw adalah mesin pengunyah ciptaan Tuhan yang paling mutakhir, pasti kalian ga heran liat perut gw yang buncit sebuncitnya2 umat. Nah, ini ada tips yoga yang bisa bikin perut kita–berasa–agak kempes dikit :

selamat mencoba!

Permalink 2 Comments

The Very First Time

December 17, 2011 at 1:42 pm (ceracau)

image

Segala hal yang membahagiakan dan menyedihkan itu rasanya lebih brasa kalau terjadi pertama kalinya.

Pertama punya pacar, pertama masuk kuliah, pertama masuk sekolah dan pertama lainnya.

Bayangin kalo setiap kali yg kita lakukan adalah yang pertama. Pertama nafas, pertama makan, pertama nyicipin rasa pahit, manis, asin, dan seterusnya. I believe it’s gonna be awesome.

Gw sendiri selalu berupaya apa yang gw lakukan selalu terasa pertama kalinya. Excitement nya beda! Degup jantung lo beda! It feels just different.

Gw frequent flier di salah satu maskapai. Dalam seminggu gw bisa pakai maskapai ini 2-4 kali. It feels numb. Berbeda sekali ketika gw naik pesawat pertama kali. It feels… different. Gw ecited, I didn’t missed every second of it. I can feel that my blink rates were decreased while I’m the air.

Sekarang gw sedang melatih kebiasaan gw untuk feel the first time experience everytime gw naik pesawat. Gw selalu check in lebih awal, try something new. Dari nyoba self check in sampe check in di counter yg berbeda-beda. Gw pilih duduk samping jendela dan gw liat every single detail.

Gw berusaha melihat something new dr semua hal. The cloud is different, the people I met are different, the view is different. The sky is bright white. It’s so vast. It is so soft. Ribuan kemungkinan bisa terjadi di atas sini.

While I’m writing this blog, a small plane pass through mine. It’s red. It looks like Superman! It is so bloody fast! How cool is that? :D

Awan di bawah gw pun menyala2. Kadang terang kadang gelap, kaya lampu. Mungkin krn di bawah sedang cuaca buruk dan lagi petir. See? There are new things up here.

The ability to feel the first experience is awesome. Once you master it. Your life will be the most wonderful life in this universe. U’re reborn.

And, try this: love your wife, spouse, gf/bf, etc like this is the first time u met her. It feels awesome. I love my girlfriend just like the very first time I met her. It feels so great! :)

Permalink 1 Comment

Kalo kena tilang mending minta form merah!

November 7, 2011 at 8:36 pm (ceracau) (, , , , , , , , )

Kalo kena tilang mending minta form kerah daripada form biru! Ko bisa? Nah jadi ceritanya gini, kebetulan pas daya browsing2 nemu link ini http://kotakhitamdunia.blogspot.com/2011/10/info-tentang-surat-tilang-untuk-para.html?m=1 sebenernya tulisan ini sempat dimuat di kaskus beberapa tahun lalu. Dan sekarang di copas dan disebar dimana2. Nah di tulisan ini disaranka kalo kita kena tilanh mending minta form biru. Nah mnurut oengalaman saya, mending minta form merah.

Jadi ceritanya kebetulan di minggu yang sama, saya da  teman sekantor saya kena tilang. Teman saya ambil slip biru dan saya (krn ga tau) dpt slip merah.

 

SLIP BIRU

slip biru

teman saya dpt slip biru dan disitu ditulis dendanya 200.000 padahal dia cuma mati lampu saja. Nah pas dia protes si polisi cuma bilang, kl proses slip biru akan ditulis denda maksimal nah nanti si terdakwa akan disuruh bayar sejumlah tersebut di BRI dan dia akan ambil sim/stnk di kejaksaan atau di PN tempat dia ditilang. Nah kalo memang dendanya diputuskan lebih kecil maka si terdakwa bisa “refund” di tempat.

Teman saya akhirnya hayar di BRI, besoknya ke kejaksaan ambil SIM. Ternyata di kejaksaan sudah disetting sedemikian rupa biar duit sisanya ga balik. At least itu menurut teman saya. Ada beberapa kesulitan yh dihdapi pas mau refund. Alhasil terbanglah itu duit 200k.

 

SLIP MERAH

sip merah

sip merah

Saya kena tilang karen kasus yg sama, lamou mati pas siang hari. karena ga paham dan kebetulan si polisi nya baek, jadi saya disarankan ambil slio merah dan ikut sidang. Saya bilang ke dia saya ga akan nyogok. Akhirnya saya terima slip merah dg besaran denda di kosongin.

Beberapa hari kemudian sy ke PN untuk ikut sidang, ternyata di PN (IMO) sudah dikondisikan agar pake calo (ribet, antre, dan puluhan calo uda kaya antre sembako). Alhasil saya ga bisa ikut sidang dan hampir menggunakan jasa calo.. untungnya ada petugas PN yg bilang, “uda mas pulang aja, kl mas mau mending senin aja (waktu itu hari jumat) ambil di kejksaan” akhirnya saya pulang, senin di minggu depan saya ambil di kejaksaan. Bayar denda yang cuma 35K. As simple as that.

DISCLAIMER
ini adalah catatan kisah sementara, kasus ini bisa jadi anomali atau bukan.

Permalink 2 Comments

Kawasaki akan jadi market leader!

October 30, 2011 at 9:44 pm (ceracau)

 

Kawasaki atau Yamaha sesaat lagi akan menjadi market leader di pasar kendaraan roda dua. Hal ini akan terjadi jika Astra Honda Motor tidak segera “bergerak”.

Awal gebrakan Kawasaki terjadi ketika Kawasaki meluncurkan Ninja 250R. Sebenarnya Kawasaki bukan pabrikan motor pertama yang menghadirkan motor kelas 250cc. Dulu Suzuki sempat meluncurkan Thunder 250cc sebagai salah satu produknya, tapi gagal di pasaran.

Awal tahun 2008 Kawasaki meluncurkan Ninja 250RR sebagai salah satu andalannya di kelas 250cc. Hal ini memicu AHM untuk mengeluarkan CBR 250 sebagai salah satu tandingan Ninja 250. Sayangnya langkah ini tidak diikuti oleh kesuksesan penjualan CBR 250, secara keseluruhan penjualan Ninja masih di atas Ninja (Penjualan CBR as of Juni 2011 967 dan Ninja 1.250 unit).

AHM telah sah menjadi follower di kelas 250cc. Sebenarnya bukan sekali ini AHM menjadi follower, di kasus motor matic, AHM pun menjadi follower dengan mengeluarkan Honda Beat (Yamaha terlebih dahulu meluncurkan Yamaha Mio), dan sekali lagi top of mind pasar untuk motor matic adalah Mio, bukan Beat

Keptusan untuk release Ninja 250 ternyata berbuah manis yang akhirnya menjadikan Kawasaki menjadi market leader di kelas 250cc. Saat ini Kawasaki meluncurkan ZX6R, varian baru di kelas 600cc. Kelas yang hampir jarang ditembus hampir seluruh pabrikan motor.

Indonesia dianggap kurang “mumpuni” dengan kelas 600cc ini. Harga yang mahal, kemacetan, hingga sarana dan prasarana yang kurang menjadi alasan kenapa pasar ini jarang ditembus. Lalu kenapa Kawasaki berani menembus pasar 600 cc?

Berpengalaman dari kasus Ninja 250R, ternyata pasar sangat menyukai motor cc besar, pasar pun sudah mulai terbiasa dengan motor-motor cc besar dan yang paling penting, penjualan motor dengan kredit semakin meningkat dan semakin banyak penyedia layanan kredit motor.

Apalagi ZX6R dibandrol dengan harga yang “murah”, 211 juta untuk motor mewah sekelas CBR 600RR yang pasaran di Indonesia sebesar hampir 290 juta Rupiah. Prediksi saya ZX6R akan memetik hasil yang manis. Kenapa? Karena Kawasaki sangat memberdayakan komunitas-komunitas motor yang ada untuk menjajakan

Namun sekali lagi, Kawasaki menjadi pioneer di kelas 600cc. Kita akan segera melihat AHM atau pabrikan lain meluncurkan varian motor 600cc. Saran saya untuk AHM, gunakan jaringan HSO yang ada di seluruh Indonesia dan 3 plant AHM yang ada di Jawa Barat.

Permalink Leave a Comment

Sharing with @budip Pascasarjana Komunikasi UI, 19 Oktober 2011 (2)

October 20, 2011 at 7:21 pm (ceracau)

Get Viral!!

 

Marketing

Shinta-Jojo, JB dan Briptu Norman merupakan produk-produk yang dipasarkan by design. Inilah tanggapan @budip ketika saya tanya tentang kasus-kasus yang secara “instan” meraup ketenaran.

Menurut @budip proses pemasaran produk tersebut memang disengaja, atau setidaknya begitu mereka perform di youtube, mulai banyak pihak yang dengan segera merancang strategi pemasaran produk ini.

Namun semua kasus diatas mempunyai satu kemiripan. Semuanya memiliki genuineness atau keaslian dan keunikan. Briptu Norman dengan atribut polisinya, S-J dengan ekspresinya dan JB dengan suaranya yang merdu dan mukanya yang polos.  Bayangkan jika video briptu Norman direkam dengan kualitas HD dan dengan pengarah gaya kelas Bollywood. Saya yakin nasib Norman tidak akan semanis saat ini.

Pemasaran di media sosial memang tidak ada formulasi yang tepat, namun ada beberapa hal yang bisa membantu proses pemasaran di media sosial. Berikut beberapa tips yang disampaikan pada malam itu.

  1. Jumlah follower atau tingkat conversation?

Ketika kita ingin mencari influencer untuk mengendorse sebuah produk mana yang lebih baik, akun dengan jumlah follower yang tinggi atau akun dengan tingkat conversation yang tinggi?

@budip dengan jelas menyatakan keduanya sama bagusnya. Akun dengan jumlah follower tinggi dapat digunakan untuk build a brand sementara akun dengan tingkat conversation tinggi bisa dijadikan alat untuk market insight mining.

2. Pelajari nature dari internet user.

Dulu nenek moyang kita terpaku pada satu site untuk berita, detik.com atau kompas.com. Saat ini kita mengenerate informasi dari berbagai macam sumber yang direkomendasikan teman kita. Kita tidak lagi terpaku pada satu sumber informasi. We’re learning and therefore we’re getting smarter. Jika kita tidak mengubah kebiasaan kita dalam memasarkan produk, tamatlah riwayat kita.

Oh ya, ada satu hal yang menarik, berdasarkan eksperimen yang dilakukan @budip ternyata pengunjung web hanya mengklik satu/dua link dan tidak mengacuhkan linknya. Lalu mengapa kita harus membuat website dengan ribuan link di halaman muka? Cek Peneroka untuk menuju eksperimen ini

3. Ukur efektivitas exposure Anda

Selain Google Analytics, Klout, Hootsuite dan beberapa tools lainnya, ternyata twitpic bisa digunakan sebagai alat ukur juga! Si endorser akan foto dengan backgroun/atribut yang berbau produk kita, RT, lihat viewnya. Sweet! :)

4. Kontinyu

Social media marketing is about conversation, engagement. Oleh karena itu kontinyuitas menjadi penting. Bayangkan jika Anda mengeluarkan semua peluru Anda di awal permainan. The game won’t last long for you.

Yup, setidaknya itu yang saya tangkap dari sharing malam itu. If you have any comment, please, be my guest! :)

Permalink Leave a Comment

Sharing w/ @budip Pascasarjana Komunikasi UI, 19 Oktober 2011 (1)

October 19, 2011 at 10:02 pm (ceracau, laporan) (, , )

#startup
Lanskap dunia digital di Indonesia sedang berkembang. Perkembangan ini menuntut banyak tenaga kerja yang bagus dan kompeten, namun sayangnya proses headhunting di Indonesia saat ini adalah bentuk headhunting kuno yang hanya dipindah ke dunia digital (jobsdb, jobstreet, dsb).
Headhunter akan memposting lowongan di jobsdb/jobstreet dan pencari lowongan akan masuk ke situs2 tersebut, nah yang masuk biasanya orang2 yang cari kerjaan, which is biasanya belum ada pengalaman. Lalu yang bagus2 kemana? Yang bagus2 sedang kerja! Nah, disinilah Linkedin menemukan ceruknya.

Linkedin mempertemukan praktisi yang kompeten di bidang tertentu dengan headunters. Disinilah kebutuhan headhunters terpenuhi dan sekaligus membuka peluang bagi praktisi yang memiliki kompetensi. Pasar pun akhirnya terbentuk.

Linkedin sebagai media sosial “profesional” menawarkan sesuatu yang baru sekaligus dibutuhkan oleh kebanyakan user. Inilah inti startup.

Kebanyakan startup berangkat dari semangat yang berbeda. Banyak startup yang ambisius ingin mengalahkan raksasa2 yang sudah ada. Mereka membuat facebook, youtube, dll dengan “cita rasa lokal”. Logikanya adalah, sudah ada yang mudah digunakan, komunitas sudah terbangun, ngapain pakai layanan yang belum teruji? There’s no such thing as nationalism in this field.

@budip dalam sharingnya juga menceritakan pengalamannya dalam mengikuti pitching dengan beberapa pengembang startup. Kebanyakan dari mereka belum memahami siapa marketnya. Padahal menurut @budip user adalah concern utama dalam startup. Bayangkan jika kita membuat sebuah layanan—yang menurut kita bagus dan useful—tapi ternyata tidak ada yang menggunakan!

Menurut @budip perlu lima poin untuk menggambarkan big picture dari sebuah startup:
1. Problems
2. Solution
3. Product(s)
4. Target user
5. Co-founder

Dengan penjelasan yang baik dari lima poin di atas maka seorang pengembang startup bisa dengan lebih mudah meyakinkan VC dan menjalankan startupnya. Pemilihan VC dan mentor sudah tentu menjadi concern utama juga bagi pengembang. Dengan pemilihan mentor yang tepat, pengembang bisa dengan lebih mudah untuk mengembangkan startupnya.

Menurut @budip sebisa mungkin pengembang lokal ini self-funding terlebih dahulu. “kadang investor kasih duit dikit, mintanya banyak”, kelakar @budip.

(to be continued…..)

Permalink 2 Comments

Kisah Confusius dan Murid Kesayangannya

September 20, 2011 at 3:07 pm (ceracau)

Yan Hui adalah murid kesayangan Confusius yang suka belajar, sifatnya baik. Pada suatu hari ketika Yan Hui sedang bertugas, dia melihat satu toko kain sedang dikerumunin banyak orang. Dia mendekat dan mendapati pembeli dan penjual kain sedang berdebat.

Pembeli berteriak: “3×8 = 23, kenapa kamu bilang 24?”
Yan Hui mendekati pembeli kain dan berkata: “Sobat, 3×8 = 24, tidak usah diperdebatkan lagi”.
Pembeli kain tidak senang lalu menunjuk hidung Yan Hui dan berkata, “Siapa minta pendapatmu? Kalaupun mau minta pendapat mesti minta ke Confusius. Benar atau salah Confusius yang berhak mengatakan”.
Yan Hui: “Baik, jika Confusius bilang kamu salah, bagaimana?”
Pembeli kain: “Kalau Confusius bilang saya salah, kepalaku aku potong untukmu. Kalau kamu yang salah, bagaimana?”
Yan Hui: “Kalau saya yang salah, jabatanku untukmu”. Keduanya sepakat untuk bertaruh, lalu pergi mencari Confusius.

Setelah Confusius tahu duduk persoalannya, Confusius berkata kepada Yan Hui sambil tertawa: “3×8 = 23. Yan Hui, kamu kalah. Kasihkan jabatanmu kepada dia.” Selamanya Yan Hui tidak akan berdebat dengan gurunya. Ketika mendengar Confusius bilang dia salah, diturunkannya topinya lalu dia berikan kepada pembeli kain. Orang itu mengambil topi Yan Hui dan berlalu dengan puas. Walaupun Yan Hui menerima penilaian Confusius tapi hatinya tidak sependapat. Dia merasa Confusius sudah tua dan pikun sehingga dia tidak mau lagi belajar darinya. Yan Hui minta cuti dengan alasan urusan keluarga. Confusius tahu isi hati Yan Hui dan memberi cuti padanya..

Sebelum berangkat, Yan Hui pamitan dan Confusius memintanya cepat kembali setelah urusannya selesai, dan memberi Yan Hui dua nasehat : “Bila hujan lebat, janganlah berteduh di bawah pohon. Dan jangan
membunuh.” Yan Hui bilang baiklah lalu berangkat pulang. Di dalam perjalanan tiba2 angin kencang disertai petir, kelihatannya sudah mau turun hujan lebat. Yan Hui ingin berlindung di bawah pohon tapi tiba2 ingat nasehat Confusius dan dalam hati berpikir untuk menuruti kata gurunya sekali lagi. Dia meninggalkan pohon itu.

Belum lama dia pergi, petir menyambar dan pohon itu hancur. Yan Hui terkejut, nasehat gurunya yang pertama sudah terbukti. Apakah saya akan membunuh orang? Yan Hui tiba dirumahnya sudah larut
malam dan tidak ingin mengganggu tidur istrinya. Dia menggunakan pedangnya untuk membuka kamarnya. Sesampai didepan ranjang, dia meraba dan mendapati ada seorang di sisi kiri ranjang dan
seorang lagi di sisi kanan. Dia sangat marah, dan mau menghunus pedangnya. Pada saat mau menghujamkan pedangnya, dia ingat lagi nasehat Confusius, jangan membunuh. Dia lalu menyalakan lilin dan ternyata yang tidur disamping istrinya adalah adik istrinya.

Pada keesokan harinya, Yan Hui kembali ke Confusius, berlutut dan berkata: “Guru, bagaimana guru tahu apa yang akan terjadi?” Confusius berkata: “Kemarin hari sangatlah panas, diperkirakan akan turun hujan petir, makanya guru mengingatkanmu untuk tidak berlindung dibawah pohon.. Kamu kemarin pergi dengan amarah dan membawa pedang, maka guru mengingatkanmu agar jangan membunuh”.
Yan Hui berkata: “Guru, perkiraanmu hebat sekali, murid sangatlah kagum.” Confusius bilang: “Aku tahu kamu minta cuti bukanlah karena urusan keluarga. Kamu tidak ingin belajar lagi dariku. Cobalah kamu pikir. Kemarin guru bilang 3×8=23 adalah benar, kamu kalah dan kehilangan jabatanmu. Tapi jikalau guru bilang 3×8=24 adalah benar, si pembeli kainlah yang kalah dan itu berarti akan hilang 1 nyawa. Menurutmu, jabatanmu lebih penting atau kehilangan 1 nyawa yang lebih penting?”
Yan Hui sadar akan kesalahannya dan berkata : “Guru mementingkan yang lebih utama, murid malah berpikir guru sudah tua dan pikun. Murid benar2 malu.” Sejak itu, kemanapun Confusius pergi Yan Hui selalu mengikutinya.

Permalink Leave a Comment

Brand Life Cycle

September 18, 2011 at 8:39 am (ceracau)

Brand life cycle, term ini masih sangat jarang digunakan, bahkan tidak banyak literatur yang membahas term ini. Orang lebih banyak menggunakan dan membahas tentang product life cycle. Dari masa introduction hingga decline, padahal brand cukup penting dalam marketing.

Brand identity mampu menyampaikan apa yang ingin dikomunikasikan si produsen ke konsumen melalui berbagai macam faktor (desain, nama, warna, dll). Oleh karena itu saya rasa cukup penting untuk mengentahui dimana posisi brand kita saat ini agar kita dapat mengatisipasi perubahan yang terjadi.

Sebagai contoh, pada tahun 70an, di Indonesia sempat beredar majalah dengan nama “Zaman”, sempat beredar dan akhirnya tidak laku. Akhirnya majalah tersebut berubah nama menjadi “MATRA”, alhasil nama itu pun membawa pundi rupiah masuk ke kantong pemilik majalah tersebut.

Lalu pertanyaan saya adalah kapan seorang produsen harus bersiap-siap melakukan revitalisasi brand agar tetap survive di pasar. Apakah brand life cyle ini sama persis dengan product life cyle yang terdiri dari introduction-growth-mature-decline ?

Setelah browsing kanan-kiri, ternyata memang agak sulit menemukan materi tentang brand life cycle, tapi berikut yang bisa sedikit saya rangkum.

Pembahasan tentang brand life cycle (BLC) tidak bisa lepas dari product life cycle. Product life cycle terdiri dari empat tahap, introduction, growth, mature dan decline. PLC bisa disandingkan dengan daur hidup brand seperti dibawah ini.

Jika kita lihat dari bagan diatas, maka terlihat bahwa sebuah BLC tergantung/berkaitan dengan PLC. Penjelasan dari diagram diatas sebagai berikut:

Diagram BLC di atas diciptakan oleh penulis. Silahkan cantumkan sebagai referensi dengan menulis sumber.

Dalam tahap awal pengenalan produk (introduction) maka sebuah brand akan dikenalkan dan memasuki dalam tahap recognition, konsumen perlu tahu apa dan siapa brand yang dimaksud.

Ketika produk memasuki tahap growth, maka sebuah brand bisa jadi masuk ke primary awareness atau masih dalam tahap recognition (hal ini juga berlaku dalam tahap mature, dimana brand bisa jadi masih di tahap primary awareness dan belum memasuki eternity).

Hal ini terjadi karena brand life cycle memakan waktu lebih lama dari pada product lifecycle. Sebuah produk bisa obsolete hanya dalam waktu singkat, namun tidak dengan brand. Produk deterjen bisa diinovasi dengan ditambahkan pewangi/pemutih dan segala inovasi namun namanya tetap RINSO.

Lalu kapan sebuah brand bisa dikatakan memasuki periode eternity? Sebenarnya tidak ada patokan resmi kapan sebuah brand memasuki tahap tertentu, namun layaknya product life cyle pasti ada beberapa indikator yang menunjukkan hal ini.

Menurut penulis sendiri, sebuah brand telah memasuki masa eternity, ketika apa yang melekat dalam suatu produk telah digantikan dengan brand tersebut. Brand ini menjadi generic. Contohnya Honda, saat ini  bisa jadi merek ini telah memasuki periode eternity, karena top of mind produk motor adalah Honda. Namun parameter ini tidak pasti, parameter dapat berubah sesuai patokan yang digunakan si produsen dalam mengukur brandnya.

Mungkin tulisan berikutnya akan tentang brand audit. :)

Permalink 2 Comments

KONTRIBUSI ATAU CUMA ‘BUSY’?

September 5, 2011 at 10:21 am (ceracau, kisah-kisah)

Oleh : Anthony Dio Martin Managing Director HR Excellency Bisnis Indonesia,

“Doing nothing better than being busy doing nothing.”-Lao Tzu-

Memulai awal 2009 ini, ada suatu kisah yang saya ingin Anda renungkan. Kisah ini bercerita tentang seekor itik yang begitu sibuk berenang di suatu kolam. Dari awal matahari terbit hingga menjelang di ufuk timur, itik itu sibuk sekali berenang di kolam tersebut. Berkeliling dari satu ujung ke ujung yang lainnya. Tidak ada capai-capainya. Betul-betul luar biasa. Hingga menjelang akhir hari tersebut, si itik itu pun memutuskan untuk keluar dari kolam itu dengan ‘keringatan’ sambil berucap, “Wuih…betul-betul capai sekali dan meletihkan”.

Inilah fenomena itik berenang yang ingin saya bicarakan dengan Anda di permulaan tahun baru ini. Saudara serumpun kita dari Malaysia mempunyai istilah ‘gelabah itik’ untuk mendeskripsikan kesibukan seekor itik di kolam. Seperti kisah di atas, kalau Anda perhatikan, itik tersebut nampaknya sibuk kesana-kemari, banyak gerakannya, tetapi pada akhirnya…itik itu tidak bergerak ke mana pun! Nah, kalau hal ini Anda kaitkan dengan kehidupan Anda pada tahun lalu, apakah mirip dengan si itik ini? Begitu banyak kesibukan dan pekerjaan (atau bahkan ada yang pura-pura sibuk) tetapi pada akhirnya hanya sedikit produktivitas atau hasil yang Anda capai. Banyak aktivitasnya tetapi dimana hasilnya, Anda pun tidak bisa menjelaskannya.

Begitulah, dalam momen konseling yang dilakukan terhadap ratusan peserta pelatihan, saya menjumpai orang-orang yang berkeluh-kesah soal kesibukan mereka sampai-sampai tidak punya waktu lagi untuk keluarga. Bahkan, waktu untuk sekadar memanjakan diri dan menikmati hidup pun, rasanya nyaris tidak punya. Mereka datang dari berbagai latar belakang, mulai dari direktur, manajer, supervisor, karyawan biasa, guru, bahkan para pengusaha. Dan kebanyakan mengajukan kasus yang sama, yakni pekerjaan yang menuntut waktu dan tenaga mereka secara berlebih.

The Swimming Duck

Pada akhirnya, mereka tiba dengan wajah yang lesu sembari berujar, “Yah, inilah risiko pekerjaan. Begitu banyak menyita waktu saya, begitu banyak hal yang harus dikerjakan, sehingga tidak ada waktu untuk yang lainnya.” Kalimat yang terdengar sangat akrab, bukan?

Fenomena itik

Kalau Anda banyak sekali berujar soal kekurangan waktu di tahun lalu, cobalah Anda refleksikan, jangan-jangan Anda pun terkena fenomena itik di atas. Itulah yang sering kali saya sampaikan dalam berbagai kesempatan seminar dan training saya, “Ketika Anda begitu ‘busy’ apakah Anda betul-betul berkontribusi?”

Hal yang perlu Anda perhatikan bagi diri Anda dan juga orang-orang yang Anda pimpin adalah kesibukan, tidak selalu setara dengan produktivitas. Artinya, Anda bisa kelihatan sibuk ke sana-ke mari, tergesa-gesa atau bekerja siang dan malam, tetapi tidaklah berarti Anda menghasilkan sesuatu.

Itulah penyakit yang tanpa sadar dialami oleh banyak orang. Saya jadi ingin mengingatkan Anda dengan ucapkan yang pernah disampaikan oleh salah satu guru pemasaran idola saya, Jay Abraham, dalam nasihatnya bagi para pebisnis, “Begitu banyak orang yang mengatakan mereka bangga menghabiskan waktu berhari, berbulan dan bertahun dengan bisnisnya. Tapi yang penting bukanlah seberapa banyak waktu yang Anda habiskan. Tapi, seberapa banyak yang Anda hasilkan ?” Dengan kata lain, percuma kita menghabiskan banyak waktu, kelihatan sibuk, tetapi hasilnya nihil.

Celakanya, sadar ataupun tidak, kita seringkali mengukur kontribusi diri kita dari waktu dan kesibukan kita setiap hari. Jika setiap hari kita lembur dan pulang tengah malam, kebanyakan dari kita akan berpikir inilah cara kita berberkontribusi dan sikap yang patut diteladani.

Saya sendiri pun pernah kenal secara dekat seorang atasan yang senang jika anak buahnya terlihat sangat sibuk. Jika sampai ia melihat bawahannya ada yang nganggur, dia akan langsung memarahi dan menganggapnya tidak memberikan yang terbaik bagi perusahaan.

Padahal, ukuran kontribusi yang sesungguhnya bukanlah berapa banyak waktu dan tenaga yang kita berikan melainkan berapa banyak hasil yang diberikannya! Buat apa kelihatan sibuk, sampai-sampai tidak ada waktu untuk berpikir hal-hal yang strategis dan

menolak menerima tambahan pekerjaan lain dengan alasan kesibukannya, tetapi pada kenyataannya pun tidak banyak yang dihasilkannya.

Namun, itulah fenomena yang juga saya temukan pada banyak karyawan di kantor-kantor belakangan ini. Begitu rajinnya mereka datang pagi-pagi, sibuk di depan komputer, bergerak dengan setumpuk dokumen, bicara di telepon (katanya dengan klien), terkadang sibuk keluar kantor (katanya bertemu klien), tetapi pada akhir hari jika kita tanyakan bagaimana hasil pekerjaannya, jawabannya adalah, “Kerjaannya belum selesai” atau “Targetnya belum tercapai”.

Begitulah, kita sering sekali terjebak untuk menjadi sekadar busy padahal sebenarnya kontribusi kita tidak setimpal dengan waktu dan tenaga yang kita keluarkan. Yang lebih parah, ada beberapa orang yang memang kecanduan dengan kesibukan.

Mereka memperoleh kepuasan psikologis dan merasa berharga jika mereka bisa menyibukkan diri habis-habisan. Akibatnya, keluarga menjadi korban, orang-orang terdekat kita menjadi korban, bahkan tidak jarang kehidupan kita sendiri turut terenggut dan menjadi korban.

Tanpa hasil gemilang

Kalaupun di tempat kerja, orang-orang ini prestasinya biasa-biasa bahkan tergolong rendah. Mereka pun tidak banyak mencetak hasil yang gemilang. Ini sesuatu yang sangat ironis bukan, begitu sibuknya tetapi mengapa tidak ada pencapaiannya?

Baiklah. Sekarang mari kita bicarakan bagaimana caranya Anda betul-betul berkontribusi dan tidak hanya busy? Ada dua hal penting yang perlu menjadi perenungan kita. Goal kita dalam bekerja harus jelas. Bedakan antara aktivitas dengan hasil!

Tujuan kita dalam bekerja bukanlah mencari kesibukan tetapi bagaimana kita menghasilkan. Karena itu, perlu bagi kita untuk memiliki semacam alarm dalam diri kita sendiri, apakah kita menghasilkan sesuatu atau hanya sekedar menyibukkan diri. Ataupun sebaliknya, ketika kita bersibuk ria, apakah setimpal dengan output yang kita peroleh.

Milikilah kepekaan bahwa apa pun yang sedang kita kerjakan membawa kita semakin dekat dengan tujuan kerja ataupun goal kehidupan kita. Pastikan kita sadar, bahwa apa pun yang kita lakukan, termasuk pekerjaan kita di kantor, meskipun pergerakannya lambat, tetap membawa kita semakin dekat dengan tujuan kita. Jika tidak jangan meluangkan waktu terlalu banyak dengan pekerjaan-pekerjaan yang hanya menyita waktu tetapi sia-sia.

Untuk itu, tips kita yang kedua adalah sungguh-sungguh mengenali mana pekerjaan yang produktif, dan mana yang hanya menyibukkan tetapi tidak produktif. Terkadang, di kantor dan di bisnis akan ada banyak aktivitas yang menyibukkan, tetapi sebenarnya tidak produktif, termasuk telepon-telepon, obrolan, kunjungan ataupun rapat-rapat yang ‘wasting time’.

Termasuk juga teknologi sekarang bisa menjadi ‘pencuri waktu’ yang kejam. Kesibukan membalas email, mencari informasi di Internet dan merespons permintaan yang tidak penting, serta berbagai aktivitas popularitas seperti blogging, friendster ataupun chatting, bisa sangat menyita waktu. Beranilah untuk menyortir dan berusahalah tidak tergoda untuk hal-hal yang menyita waktu Anda yang berharga.

Seorang bijak pernah berkata, “Kunci dari fokus adalah eliminasi”. Anda harus berani menyingkirkan hal-hal yang tidak sesuai dengan prioritas Anda. Anda harus berani berkata “tidak” untuk godaan aktivitas yang justru mengganggu produktivitas Anda.

Permalink Leave a Comment

investasi?! ga penting!

January 26, 2011 at 11:33 am (finansial, investasi, tabungan)

Kita sering dengar kata “investasi” begitu juga dengan kata “tabungan”.

Nah, kalau ditanya apa bedanya, banyak orang yang masih bingung.
Jadi, tabungan sejatinya adalah sebuah simpanan yang sebetulnya diperuntukkan untuk jangka pendek, bulanan, tahunan atau bahkan harian.

Tabungan ini biasanya disertai dengan resiko yang sangat kecil, hamper tidak ada. Namun tentu saja dengan hasil pengembangan yang kecil pula. Contohnya Deposito. Jenis simpanan ini mempunyai bunga yang hanya berkisar dari 6%-7% (fyi, inflasi kita tahun 2010 sekitar 6.9%). Namun Anda akan mendapat jaminan bahwa dana/simpanan tidak akan berkurang/minus. Ada faktor keamanan yang cukup tinggi disini.

Berikutnya adalah investasi. Investasi adalah sebuah simpanan yang sejatinya diperuntukkan untuk jangka panjang (bisa belasan bahkan hingga puluhan tahun). Investasi sendiri biasanya disertai resiko yang relative lebih tinggi dari tabungan namun memberikan hasil pengembangan yang lebih tinggi. Sebagai contoh adalah investasi Reksadana. Investasi bagi pemula ini dapat menghasilkan return dari belasan hingga puluhan persen per tahun.

Sebagai contoh Program Reksadana yang ditawarkan Schroders (Dana Prestasi Plus) mampu menghasilkan pengembangan hingga 20% per annum.
Namun tentu saja dengan beracu pada hukum investasi ”high risk high return” investasi jenis tidak selamanya akan untung. Contoh paling nyata adalah ketika saya pertama kali membeli reksadana jenis ini dengan NAB (Nilai Aktiva Bersih) sebesar—kira-kira—19.000 rupiah per unit pada bulan berikutnya ternyata harga per unit turun hingga kisaran 18.000 rupiah. Jika dilihat dalam jangka pendek saya bisa katakan “merugi”.

Namun dalam investasi jika kita tidak menguangkan investasi kita, kita tidak dapat sepenihnya dikatakan rugi/untung. Setelah investasi kita dirubah dalam bentuk uang, disitulah kita dpat dikatakn untung/rugi.
Nah, bulan ini harga per unit dari Reksadana saya berada di kisaran Rp. 21.000 lalu apakah saya untung? Tentu saja hal ini belum dapat disimpulkan. Ketika saya menguangkan investasi saya saat ini juga maka saya dapat dikatakan untung, namun saya menginginkan hasil/return yang lebih besar untuk itu saya tidak akan mencairkan dana tersebut dalam waktu dekat.

Investasi yang memiliki resiko besar dapat ditanggulangi dengan jangka waktu penyimpanan yang lebih lama.

Jadi sudah paham apa itu investasi? masih bilang ga penting?!

Permalink Leave a Comment

Next page »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,064 other followers